MediaNusantaraNew.Com
Jakarta – Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir. Namun, laporan terbaru dari Deep Intelligence Research (DIR) justru mengungkap fakta berbeda: keresahan yang terjadi lebih banyak dipicu oleh persepsi publik yang berkembang di ruang digital dibandingkan kondisi nyata di lapangan.
Dalam hasil risetnya, DIR menemukan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan BBM tidak sepenuhnya bersumber dari keterbatasan stok, melainkan dari derasnya arus informasi di media sosial. Narasi yang berkembang, termasuk rumor dan hoaks, memperkuat asumsi publik sehingga memicu kecemasan kolektif.
Direktur Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menegaskan bahwa isu BBM memiliki tingkat sensitivitas tinggi di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa isu ini sangat mudah menjadi pemantik keresahan sosial jika tidak dikelola dengan baik.
“Isu BBM adalah pemantik tercepat keresahan sosial di Indonesia. Melalui Big Data, kita dapat mendeteksi lonjakan emosi negatif seperti anger dan fear sebelum berkembang menjadi aksi massa atau panic buying,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4/2026).
Riset DIR mencatat bahwa dalam periode 14 Maret hingga 1 April 2026, terjadi lonjakan signifikan dalam percakapan terkait BBM. Momentum ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika global seperti konflik di Timur Tengah hingga isu strategis seperti potensi penutupan Selat Hormuz, ditambah meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang mudik Lebaran.
Secara kuantitatif, percakapan mengenai BBM mencapai lebih dari 194 ribu diskusi di media sosial dengan jangkauan audiens melampaui 910 juta pengguna dan interaksi lebih dari 302 juta. Angka tersebut menunjukkan betapa besar daya pengaruh isu ini terhadap opini publik.
Meski demikian, pemberitaan di media arus utama relatif didominasi sentimen positif. Hal ini terlihat dari banyaknya laporan yang menyoroti langkah pemerintah dan Pertamina dalam menjaga stabilitas pasokan serta memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar. Pernyataan resmi pemerintah terkait tidak adanya kenaikan harga juga turut menahan gejolak persepsi di masyarakat.
Namun di sisi lain, sentimen negatif tetap muncul dan cenderung meningkat menjelang akhir periode pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kondisi riil terkendali, persepsi publik masih sangat rentan terhadap pengaruh informasi yang belum tentu terverifikasi.
Tambahan:
Fenomena ini memperlihatkan pentingnya literasi digital di tengah masyarakat. Kemampuan untuk memilah informasi yang valid dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial. Tanpa hal tersebut, persepsi yang keliru dapat berkembang menjadi kepanikan massal yang berdampak pada perilaku konsumsi yang tidak rasional.
DIR juga merekomendasikan agar pemerintah dan pemangku kepentingan memperkuat strategi komunikasi publik berbasis data. Transparansi informasi serta respons cepat terhadap isu yang berkembang dinilai mampu meredam eskalasi keresahan. Dengan pendekatan ini, diharapkan kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan stabilitas pasokan BBM tidak terganggu oleh persepsi yang tidak berdasar.
[ Tim Redaksi ]







