Pengamat Nilai Anwar Hafid Hadirkan Gaya Kepemimpinan Baru di Sulawesi Tengah

Nasional27 Dilihat

Palu — Kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, dinilai membawa nuansa baru dalam tata kelola pemerintahan daerah. Pengamat Politik Universitas Tadulako (Untad), Nur Alamsyah, menilai Anwar berhasil menghadirkan pendekatan kepemimpinan yang menitikberatkan pada pemerataan pendidikan serta penguatan nilai moral.

Menurut Nur Alamsyah, yang akrab disapa Nuralam, salah satu kebijakan yang menonjol adalah program Berani Cerdas, yang dinilai mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap akses pendidikan.

“Program Berani Cerdas berpotensi besar menuai hasil positif dalam persepsi publik, terutama terkait pemerataan kesempatan pendidikan,” ujar Nuralam dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dengan jumlah penerima mencapai 23.568 orang. Selain itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga dinilai berhasil memperluas jejaring kerja sama pendidikan dengan berbagai perguruan tinggi, baik di tingkat daerah maupun nasional, termasuk kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lebih dari sekadar bantuan pembiayaan pendidikan, Berani Cerdas dinilai mampu menumbuhkan optimisme serta rasa percaya diri generasi muda Sulawesi Tengah untuk meningkatkan kompetensi dan berkompetisi di tingkat nasional.

Di sisi lain, kepemimpinan Anwar Hafid juga disebut sarat dengan nilai religiusitas yang diterapkan secara nyata dalam kehidupan birokrasi. Ia memandang jabatan publik sebagai amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab moral, bukan semata-mata kekuasaan administratif.

“Anwar Hafid tampil dengan karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah kepala daerah lain, terutama dalam penerapan nilai religius, seperti kebiasaan shalat berjamaah bagi aparatur pemerintah di waktu shalat,” ungkap Nuralam.

Menurutnya, pendekatan religius yang dijalankan Anwar Hafid tidak berhenti pada simbol atau seremonial semata. Nilai-nilai keagamaan justru dijadikan fondasi etika dalam pengambilan kebijakan serta dalam membangun relasi dengan masyarakat.

Kehadiran mantan Bupati Morowali tersebut dalam berbagai kegiatan keagamaan, termasuk shalat berjamaah dan dialog spiritual bersama masyarakat, dinilai mencerminkan sosok pemimpin yang religius namun tetap terbuka dan inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *