Skandal Moral Mengguncang Dunia Pendidikan Pesawaran! Oknum Guru–Dosen Diduga Terlibat Hubungan Gelap Bertahun-Tahun, Lembaga Bungkam

Berita, Daerah, Lampung31 Dilihat

MediaNusantaraNew.com

Pesawaran – Aroma skandal yang mencoreng dunia pendidikan kembali mencuat di Kabupaten Pesawaran. Seorang oknum guru di MTs Aulima Nusantara yang juga tercatat sebagai dosen di STIT Multazam Cabang Pesawaran, berinisial SR (dikenal sebagai Rifka), kini menjadi sorotan tajam publik.

Dugaan hubungan gelap yang menyeret nama SR bukan sekadar isu sesaat. Seorang ibu rumah tangga, Ormayati, secara terbuka mengungkap bahwa persoalan ini diduga telah berlangsung cukup lama, bahkan disebut sejak tahun 2019 hingga 2026.

“Kejadian ini bukan baru. Sudah lama sekali. Bahkan dulu sempat beredar pengakuan kalau mereka sudah menikah,” ungkap Ormayati kepada media.

Namun fakta lain justru mencuat. Dalam pertemuan langsung, SR disebut menyatakan dirinya belum menikah, memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Lebih jauh, Ormayati juga melontarkan klaim serius. Ia menyebut SR diduga pernah mengakui telah tiga kali menggugurkan kandungan yang disebut-sebut berasal dari hubungan tersebut. Pernyataan ini sontak memicu gelombang reaksi keras dari publik, mengingat posisi SR sebagai tenaga pendidik.

Tak tinggal diam, Ormayati mengaku telah menempuh jalur resmi dengan melayangkan pengaduan ke pihak yayasan serta kampus tempat SR bernaung. Namun hingga kini, hasilnya dinilai nihil.

“Surat sudah saya kirimkan. Tapi sampai sekarang masih aktif mengajar. Seolah tidak ada tindakan,” tegasnya.

Kondisi ini memunculkan kesan adanya pembiaran dari institusi terkait, yang justru memperkeruh kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan.

Saat dikonfirmasi pada Kamis (30/4/2026), SR hanya memberikan tanggapan singkat yang terkesan menghindar.

“Semua salah, biarkan orang mau apa,” ujarnya singkat.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pendiri STIT Multazam, Dr. H. Pausi, belum membuahkan hasil hingga berita ini diterbitkan.

Pihak MTs Aulima Nusantara melalui perwakilan bernama Teguh hanya memberikan respons normatif.

“Silakan jika ingin bertemu yayasan, nanti bisa diagendakan,” ujarnya melalui pesan singkat.

Kasus ini kini menjadi bola panas di tengah masyarakat Pesawaran. Publik mempertanyakan komitmen lembaga pendidikan dalam menjaga integritas moral dan etika tenaga pendidik.

Jika dugaan ini benar, maka bukan hanya reputasi individu yang dipertaruhkan, tetapi juga marwah institusi pendidikan itu sendiri.

Masyarakat mendesak adanya klarifikasi terbuka dan langkah tegas. Sebab, dunia pendidikan tidak boleh menjadi ruang abu-abu bagi persoalan moral yang berlarut-larut tanpa kepastian.

( Tim Redaksi )