Janji Tinggal Janji, Warga Natar Tolak Kafe Remang-Remang: “Dulu Manis, Sekarang Habis”

Daerah, Lampung24 Dilihat

MediaNusantarNew.Com

Lampung Selatan, — Deretan kafe yang berdiri di sepanjang jalan depan gerbang tol Natar, Desa Bumisari, Kecamatan Natar, kembali menuai sorotan. Kali ini, bukan sekadar keluhan, melainkan penolakan tegas dari warga yang merasa “diberi harapan palsu” oleh para pelaku usaha.

Dalam pertemuan yang digelar Minggu (19/4/2026), para pemilik usaha yang kerap disebut sebagai kafe remang-remang mencoba mempertahankan eksistensinya. Dengan alasan klasik “mencari makan”, mereka berharap tetap diizinkan beroperasi seperti biasa.

Namun, warga tampaknya sudah tidak lagi mudah diyakinkan dengan narasi lama tersebut.

Subur, salah satu perwakilan pelaku usaha, menyebut bahwa usaha mereka telah mengantongi izin lingkungan dari Ketua RT setempat. Ia juga menyinggung adanya persetujuan awal warga yang disampaikan melalui tokoh masyarakat, Ruslan.

Sayangnya, apa yang disampaikan pelaku usaha justru membuka kembali ingatan warga tentang janji yang tak pernah benar-benar ditepati.

Ruslan dengan tegas membantah bahwa persetujuan itu diberikan tanpa syarat. Ia menyebut, kala itu warga menerima keberadaan kafe karena adanya komitmen kontribusi kepada lingkungan sekitar. Namun, realisasinya hingga kini dinilai nihil.

“Dulu iya, karena ada janji. Sekarang? Tidak ada. Jadi wajar kalau warga sudah tidak mau lagi,” ujarnya lugas.

Sindiran tajam pun tak terelakkan. Warga menilai, jika sejak awal komitmen dijaga, situasi mungkin tidak akan sampai pada titik penolakan seperti sekarang. Alih-alih memberi manfaat, keberadaan kafe justru dianggap lebih banyak menimbulkan keresahan.

Sementara itu, pelaku usaha lain mencoba mengalihkan isu dengan menyebut keberadaan lapo tuak yang juga kerap memicu keributan di wilayah tersebut. Namun bagi warga, persoalan bukan soal “siapa lebih buruk”, melainkan bagaimana menjaga lingkungan tetap tertib dan nyaman.

Fakta bahwa usaha ini telah berjalan sejak 2020 tanpa penyelesaian yang jelas atas komitmen awal semakin memperkuat kesan adanya pembiaran yang berkepanjangan.

Kini, warga memilih bersikap tegas. Kesepakatan terbaru mengarah pada satu tuntutan: penutupan kafe-kafe tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah setempat. Namun satu hal yang jelas, kepercayaan yang sudah hilang tidak mudah dibangun kembali—terlebih jika sejak awal hanya dipenuhi janji manis tanpa bukti nyata.

(Tim Redaksi)

 

(Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *